Ruben Onsu Berisiko Kehilangan Hak Asuh Anak Akibat Proses Mualaf yang Berlangsung

Perselisihan antara Ruben Onsu dan Sarwendah kembali mencuat dengan munculnya isu baru terkait proses hukum mengenai hak asuh anak mereka. Perbedaan keyakinan agama Ruben, yang kini telah menjadi mualaf, diklaim sebagai salah satu alasan dalam gugatan rekonvensi yang diajukan oleh Sarwendah.
Keterangan ini disampaikan oleh pengacara Ruben Onsu, Minola Sebayang. Menurutnya, Sarwendah telah mengajukan sejumlah argumentasi melalui platform e-Court kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah status keagamaan Ruben setelah ia memilih untuk memeluk agama Islam. Minola menjelaskan bahwa kondisi ini digunakan sebagai alasan untuk mempertanyakan kemampuan Ruben dalam mendapatkan hak asuh serta melakukan interaksi dengan anak-anak mereka.
“Jadi, terkait keputusan Ruben untuk menjadi mualaf, hal ini digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi keputusan hakim agar Ruben kehilangan haknya untuk mendapatkan hak asuh dan berinteraksi dengan anak-anaknya,” ungkap Minola kepada wartawan, mengutip pernyataannya pada tayangan YouTube pada 16 September 2026.
Minola menambahkan bahwa pihak Sarwendah mengungkapkan kekhawatiran tentang kemungkinan Ruben akan mempengaruhi keyakinan anak-anak mereka yang masih di bawah umur.
“Dalam gugatan rekonvensi mereka, dengan tegas dan jelas menyatakan bahwa karena Ruben kini tidak lagi menganut agama yang sama dengan anak-anaknya, mereka tidak ingin anak-anak tersebut berada di bawah pengasuhan Ruben, baik dalam hal hak asuh maupun dalam hal pertemuan,” ia menjelaskan.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam permohonan yang diajukan oleh Sarwendah. Kekhawatiran ini berkaitan dengan potensi pengaruh yang mungkin didapatkan anak-anak dari ayah mereka yang baru menganut agama berbeda.
“Dikhawatirkan bahwa Ruben akan memengaruhi anak-anak yang masih di bawah umur ini untuk beralih agama,” tambahnya.
Minola kemudian memberikan bantahan terhadap keraguan tersebut. Ia berpendapat bahwa pengalaman Ruben dengan salah satu anaknya dapat menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak serta merta menyebabkan anak berpindah agama.
“Dari pandangan kami, ini terkesan naif dan dibuat-buat. Contohnya adalah Onyo, yang saat ini tinggal bersama Ruben, tetap memeluk agama Katolik tanpa ada pengaruh dari Ruben sama sekali,” tegasnya.
Dalam konteks ini, isu hak asuh anak menjadi semakin kompleks. Proses hukum yang dihadapi Ruben Onsu menunjukkan bagaimana perbedaan keyakinan dapat memengaruhi keputusan pengadilan. Hal ini juga mengingatkan kita bahwa dalam kasus-kasus seperti ini, faktor emosional dan psikologis anak sangat penting untuk dipertimbangkan.
Persoalan hak asuh anak sering kali melibatkan lebih dari sekadar aspek hukum; ada juga dimensi moral dan sosial yang harus diperhatikan. Sebagai orang tua, baik Ruben maupun Sarwendah tentunya memiliki kepentingan yang sama: kesejahteraan anak-anak mereka.
Kekhawatiran Sarwendah mengenai pengaruh agama Ruben terhadap anak-anak mereka mencerminkan pandangan umum yang sering muncul dalam kasus serupa. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap situasi memiliki konteks yang unik.
Dalam hal ini, banyak orang tua yang mualaf tetap mampu mempertahankan hubungan baik dengan anak-anak mereka yang tidak mengikuti keyakinan yang sama. Keberhasilan dalam menjaga hubungan ini dapat bergantung pada komunikasi yang terbuka, saling pengertian, dan saling menghormati antara kedua orang tua.
Dari sudut pandang hukum, proses hukum yang sedang berlangsung ini akan menjadi penentu nasib hak asuh anak-anak mereka. Hakim akan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kesejahteraan anak, ketika membuat keputusan.
Pengacara Ruben, Minola, menekankan bahwa keputusan akhir tidak bisa hanya didasarkan pada asumsi atau kekhawatiran tanpa bukti yang kuat. Setiap argumen harus disertai dengan fakta yang konkret untuk mendukung klaim yang diajukan.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa proses hukum dalam kasus hak asuh anak sering kali melibatkan emosi yang dalam. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk mendekati situasi ini dengan empati dan kesadaran akan dampaknya terhadap anak-anak.
Sebagai penutup, konflik ini menunjukkan betapa pentingnya kesepakatan dan kolaborasi antara orang tua, meskipun mereka memiliki perbedaan. Kesejahteraan anak-anak harus selalu menjadi prioritas utama, terlepas dari perbedaan keyakinan yang mungkin ada.
➡️ Baca Juga: Korsel Siap Menyelesaikan Konflik dengan Korut dan Menciptakan Perdamaian yang Stabil
➡️ Baca Juga: Bobotoh Menerima Berita Positif dari Persib yang Menjanjikan Keberhasilan




