Investasi Sebagai Motor Pertumbuhan Ekonomi Jelang Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Jakarta – Menyongsong dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, terdapat perubahan signifikan dalam struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia. Investasi kini semakin berperan sebagai penggerak utama, melengkapi konsumsi masyarakat yang selama ini menjadi pilar utama bagi perekonomian nasional.
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Fithra Faisal, menjelaskan bahwa perkembangan ini terjadi di tengah situasi ekonomi global yang dinamis. Berbagai indikator makroekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik dibandingkan dengan rata-rata dalam satu dekade terakhir.
“Dari tiga variabel makro, di tengah gejolak ekonomi global, ini sudah di atas rata-rata 10 tahun terakhir,” ungkap Fithra pada Kamis, 24 September 2026.
Ia menambahkan bahwa perubahan struktur pertumbuhan semakin terlihat dengan meningkatnya kontribusi investasi. Tren positif ini telah tercatat sejak kuartal IV tahun 2025 hingga kuartal I dan II tahun 2026.
“Kita sudah melihat adanya perubahan struktur, yang awalnya lebih fokus pada konsumsi, kini beralih ke investasi. Dari kuartal IV tahun 2025 hingga kuartal I dan II tahun 2026, pertumbuhannya menunjukkan hasil yang positif,” jelasnya.
Fithra juga menyampaikan bahwa peluang investasi ke depan semakin terbuka, terutama melalui kerjasama dengan sejumlah negara seperti Jepang, Jerman, Prancis, Rusia, dan China. Masuknya investasi strategis dari negara-negara tersebut dinilai dapat mendorong pembangunan ekonomi yang berbasis nilai tambah.
“Melihat potensi investasi yang besar menunjukkan bahwa roadmap pembangunan bangsa ke depan memang harus berbasis nilai tambah,” tambahnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan investasi harus diimbangi dengan pemerataan manfaat ekonomi. Masih ada wilayah dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran yang stagnan, sehingga pertumbuhan perlu diarahkan untuk semakin inklusif.
“Roadmap pembangunan bangsa tidak hanya berfokus pada investasi, tetapi juga harus mendatangkan ekonomi yang inklusif,” tegasnya.
Pakar Ekonomi dari Universitas Indonesia, Prof. Telisa Falianty, berpendapat bahwa stabilitas makroekonomi merupakan pondasi penting untuk keberlanjutan pertumbuhan. Ia mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi yang stabil di atas lima persen, inflasi sekitar tiga persen, serta tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen merupakan indikator yang menunjukkan stabilitas ekonomi yang relatif baik.
“Secara makro, kita mampu menjaga stabilitas ekonomi minimal di angka 5 persen. Kita patut mengapresiasi pemerintah yang bisa mempertahankan bahkan melampaui angka tersebut,” ucap Telisa.
Dalam pandangannya, tantangan kedepan lebih terletak pada aspek mikro, di mana penting untuk memastikan bahwa investasi yang masuk dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat sektor UMKM, serta menghasilkan efek berantai yang positif bagi masyarakat.
➡️ Baca Juga: Pemerintah Pertegas Aturan Pembukaan Lahan dalam Inpres 11/2026 untuk Cegah Karhutla
➡️ Baca Juga: PM Kanada Berkomitmen Mengurangi Belanja dan Ketergantungan Militer terhadap AS




