Putin Mengundang Prabowo ke Rusia pada Mei dan Juli 2024 untuk Kerjasama Strategis

Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkapkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah mengundang Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk kembali mengunjungi Rusia.
Sugiono menjelaskan bahwa Prabowo dijadwalkan menghadiri acara yang akan berlangsung di Kazan, Rusia, pada bulan Mei 2026.
“Presiden Putin telah menyampaikan undangan kepada Presiden Prabowo untuk menghadiri acara di Kazan yang direncanakan pada bulan Mei,” ujar Sugiono dalam keterangan yang dirilis pada Rabu, 15 April 2026.
Selain itu, Prabowo juga menerima undangan dari Putin untuk hadir di Rusia pada bulan Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, Putin mengharapkan Prabowo dapat berpartisipasi dalam pameran industri yang besar.
“Adapun pameran industri yang signifikan akan diadakan pada bulan Juli mendatang,” tambahnya.
Sesuai dengan tujuan tersebut, Sugiono menekankan bahwa undangan ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat kerja sama antara kedua negara, yang diharapkan dapat menjadi lebih intensif dan bermanfaat bagi kedua belah pihak.
Sebelumnya, Prabowo Subianto telah melakukan pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin setibanya di Moskow, pada Senin, 13 April 2026, waktu setempat.
Pertemuan yang berlangsung di Istana Kremlin tersebut menjadi bagian dari inisiatif untuk memperdalam hubungan kerjasama strategis antara kedua negara di tengah dinamika global yang terus berubah.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa pertemuan kedua pemimpin ini berlangsung selama lima jam. Pertemuan diawali dengan dua jam diskusi bilateral, dilanjutkan dengan tiga jam pertemuan langsung antara kedua kepala negara.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara sepakat mengenai sejumlah poin penting terkait kerjasama strategis, khususnya dalam sektor energi dan sumber daya mineral yang menjadi prioritas jangka panjang bagi masing-masing negara.
“Beberapa poin telah disepakati, termasuk kerja sama di sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) jangka panjang, yang mencakup ketahanan energi migas dan hilirisasi,” jelas Teddy dalam keterangan tertulisnya yang dirilis pada Selasa, 14 April 2026.
Selain fokus pada sektor energi, Teddy juga menekankan bahwa kedua negara berkomitmen untuk melanjutkan dan memperluas kerjasama di berbagai bidang lain yang dianggap dapat memberikan dampak langsung terhadap pembangunan nasional.
“Keberlanjutan dari beberapa kerjasama dalam bidang pendidikan, riset teknologi, pertanian, dan investasi di berbagai sektor, terutama dalam pembangunan industri di Indonesia, juga menjadi agenda penting,” tuturnya.
➡️ Baca Juga: Orang Kaya Mengurangi Pembelian Mobil Baru untuk Mengelola Keuangan dengan Bijak
➡️ Baca Juga: Deforestasi di Indonesia: Fakta dan Dampaknya




