IHSG Awali Perdagangan dengan Positif, 6.137 Menjadi Level Terendah Hari Ini

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan pada hari Kamis, 8 Oktober 2026, dengan sedikit penguatan. Meskipun demikian, momentum positif tersebut tidak bertahan lama, dan IHSG berbalik arah memasuki zona merah hanya beberapa menit setelah sesi perdagangan dibuka.
Pada awal perdagangan, IHSG tercatat berada di level 6.154,97, mengalami kenaikan sebesar 8,25 poin atau setara dengan 0,13%. Namun, setelah itu, indeks mengalami penurunan di tengah tingginya aktivitas transaksi pada awal sesi.
Dalam tiga menit pertama setelah dibuka, IHSG bergerak dalam kisaran 6.137 hingga 6.162. Pergerakan ini menunjukkan adanya tekanan jual yang mulai terlihat setelah indeks sempat dibuka dengan penguatan.
Dari segi aktivitas perdagangan, pergerakan saham di awal sesi terlihat cukup seimbang. Sebanyak 198 saham mengalami penguatan, sementara 226 saham mengalami penurunan, dan 242 saham lainnya tidak mengalami perubahan.
Volume transaksi di awal perdagangan mencapai 2,34 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp499 miliar. Frekuensi perpindahan kepemilikan saham tercatat sebanyak 84.822 kali pada sesi ini.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa para investor masih melakukan penyesuaian posisi di tengah berbagai sentimen, baik eksternal maupun domestik, yang sedang menjadi sorotan pasar pada hari ini.
Sentimen pasar pada Kamis, 8 Oktober 2026, diperkirakan akan dipengaruhi oleh perkembangan ketahanan ekonomi eksternal Indonesia serta arah kebijakan moneter global yang sedang berlangsung.
Sehari sebelumnya, cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan tipis. Meskipun demikian, tingkat kecukupan cadangan devisa tetap berada di atas standar internasional. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati rilis data mengenai uang primer Indonesia.
Perhatian investor pun beralih kepada hasil risalah dari Federal Open Market Committee (FOMC) yang diterbitkan oleh The Fed pada dini hari. Dokumen tersebut menjadi salah satu acuan penting bagi pelaku pasar dalam memprediksi arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat ke depan.
Selain itu, laporan mengenai keyakinan konsumen di Indonesia juga menjadi perhatian di pasar pada hari ini, menambah lapisan kompleksitas dalam analisis pergerakan saham.
Pandangan The Fed yang cenderung hawkish, penguatan indeks dolar Amerika Serikat, serta tingginya imbal hasil US Treasury adalah beberapa faktor yang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap pasar saham dan nilai tukar rupiah.
➡️ Baca Juga: Tarif Jalan Tol Akan Dikenakan PPN, Purbaya Tegaskan Janji Tetap Konsisten
➡️ Baca Juga: AS Mengkonfirmasi Perang Melawan Iran Diperkirakan Selesai dalam Beberapa Minggu ke Depan




