Syahganda Ungkap Strategi Perang Narasi Pasca Pelantikan Prabowo, Fokus pada Algoritma dan AI

Jakarta – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia, Syahganda Nainggolan, segera menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya narasi dan arah komunikasi Istana setelah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto.
Sebagai pengganti Muhammad Qodari, Syahganda menekankan bahwa komunikasi yang efektif sangatlah vital dalam menyampaikan gagasan dan pemikiran Presiden kepada publik.
Ia berkomitmen untuk melanjutkan program-program komunikasi yang telah ada, sekaligus memperkuat penyampaian narasi pemikiran Presiden kepada masyarakat luas.
Salah satu fokus utama Kepala Bakom adalah isu terkait algoritma dan kecerdasan buatan (AI), yang dianggapnya sebagai tantangan besar dalam komunikasi modern.
“Kita akan mendalami perihal algoritma. Menurut Yuval Noah Harari, tantangan terbesar dalam komunikasi saat ini berkaitan dengan algoritma, AI, dan faktor lainnya. Kami akan fokus di area tersebut,” ungkap Syahganda setelah resmi mengemban jabatan sebagai Kepala Bakom.
Sebagai langkah awal, ia berencana membentuk tim khusus. “Kami mungkin akan membentuk kelompok khusus untuk mempelajari bagaimana algoritma dapat memengaruhi atau menciptakan kesenjangan antara pemikiran Presiden dan masyarakat,” jelasnya.
Gagasan besar yang diusung oleh Ketua Great Institute ini adalah menghadapi perang narasi di era disrupsi yang tengah berlangsung saat ini.
Syahganda merujuk pada bukunya yang berjudul “Sapiens” untuk menekankan betapa pentingnya komunikasi dan narasi dalam perkembangan peradaban manusia.
Ia juga berkeinginan untuk menggandeng media sebagai mitra dalam menyampaikan pesan-pesan pemerintah kepada masyarakat, serta menjembatani aspirasi masyarakat kembali kepada pemerintah.
“Peradaban saat ini sedang dibangun oleh Presiden Prabowo, yang berupaya mengembalikan kehadiran negara. Kedaulatan dan kesejahteraan rakyat harus diutamakan,” ungkap Syahganda.
Ia menambahkan, “Pertarungan ke depan adalah mengenai narasi yang kini dikuasai oleh entitas non-manusia, yang kita kenal dengan istilah Artificial Intelligence (AI).”
Menurutnya, ide-ide dan pemikiran Presiden sering kali mengalami distorsi akibat pengaruh kekuatan otomasi digital yang ada.
Oleh karena itu, ia berharap dapat mengintegrasikan sumber daya yang ada di Bakom dengan perkembangan teknologi terkini untuk menghadapi tantangan ini.
➡️ Baca Juga: Langkah Efektif Android Mengamankan Perangkat Saat Terhubung ke WiFi Publik
➡️ Baca Juga: Tian Bahtiar Bebas Setelah 8 Tahun Penjara, Iwakum Dukung Penguatan Perlindungan Pers




