Program MBG Meningkatkan Pola Makan Sehat Anak dengan Menu Sayur dan Buah yang Konsisten

Sekitar 80 persen orang tua dari anak-anak yang menjadi penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melaporkan adanya perbaikan signifikan dalam pola makan anak-anak mereka berkat keberadaan program ini.
Data yang dikeluarkan oleh Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menunjukkan bahwa pengenalan sayur dan buah sejak usia dini turut berkontribusi terhadap kebiasaan anak untuk lebih menyukai sayuran dan sumber protein.
Dokter spesialis sekaligus edukator kesehatan, dr. Andi Khomeini Takdir, yang sering disapa dr. Koko, menegaskan bahwa dalam jangka panjang, asupan sayuran dan buah-buahan yang teratur akan sangat efektif dalam menurunkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas pada anak-anak.
Dr. Koko juga menyampaikan dukungannya terhadap program MBG, menganggapnya sebagai langkah nyata dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara nasional.
“Bonus demografi bukan hanya sekadar masalah jumlah penduduk, tetapi juga berkaitan dengan kualitasnya. Upaya pemerintah dalam memastikan kecukupan gizi sangat baik, dan sejak awal saya selalu mendukungnya,” ungkap dr. Koko dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Jumat, 24 April 2026.
Pernyataan dr. Koko sejalan dengan hasil survei terbaru dari Poltracking Indonesia. Survei tersebut menunjukkan bahwa program MBG adalah salah satu inisiatif pemerintah yang mendapatkan dukungan dan ekspektasi publik yang tinggi.
Masyarakat memandang program ini sebagai solusi konkret bagi keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan pangan anak-anak mereka setidaknya sekali sehari. Menariknya, dr. Koko menekankan bahwa pemenuhan gizi tidak perlu menjadi rumit. Ia menyarankan agar pengelolaan program tetap akuntabel tetapi sederhana dalam penyajian.
“Kembali ke esensi. Nasi, ikan, sayur, telur, atau ayam suwir sudah cukup. Jangan dibikin rumit. Anak-anak yang rutin mengonsumsi MBG akan terlatih dalam hal selera (taste education) sehingga tidak menjadi pemilih makanan yang rewel,” jelas dr. Koko.
Walaupun program ini memiliki dampak dan manfaat yang luas, dr. Koko menyadari bahwa masih terdapat kebutuhan untuk masukan dan perbaikan. Mengingat program ini beroperasi dalam skala besar dan memberikan makanan kepada jutaan orang, ia mengakui adanya tantangan teknis yang mungkin muncul di lapangan.
“Oleh karena itu, saya mengajak masyarakat untuk memandang ini sebagai proses besar yang perlu kita kawal bersama,” tuturnya.
➡️ Baca Juga: Mengidentifikasi Penyebab Sinyal Lemah di Dalam Ruangan untuk Solusi yang Efektif
➡️ Baca Juga: Panduan Lengkap Mendapatkan Sertifikasi ISO untuk Meningkatkan Mutu Produk UMKM




