Media Internasional Tinjau Penggunaan Dry Ice Indonesia dalam Menanggulangi Karhutla, Seberapa Efektif?

Penggunaan dry ice atau karbon dioksida padat sebagai solusi dalam mengatasi kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kini mendapatkan sorotan dari media internasional. Berbagai outlet berita luar negeri, termasuk The Guardian, melaporkan tentang metode yang sedang diuji oleh pemerintah untuk mengurangi dampak negatif asap terhadap kualitas udara.
Dalam laporan tersebut, media internasional mengulas bagaimana Indonesia menerapkan penggunaan dry ice setelah berbagai langkah penanganan karhutla yang lain, seperti operasi modifikasi cuaca, pemadaman melalui udara (water bombing), serta pengerahan tim di lapangan.
Dalam laporan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Dudung Abdurachman, mengungkapkan bahwa uji coba ini dilakukan berdasarkan instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk membantu mengurangi kabut asap yang melanda Sumatera Selatan.
“Penyebaran dry ice ini dilakukan atas perintah langsung dari Presiden untuk menangani kabut asap di Sumatera Selatan,” ujar Dudung, seperti yang dikutip dari The Guardian pada Minggu, 18 Oktober 2026.
Dudung juga menekankan bahwa pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap hasil dari uji coba tersebut sebelum memutuskan untuk menerapkan metode yang sama di daerah lain jika terbukti efektif.
“Kami akan memantau hasilnya terlebih dahulu, dan jika metode ini terbukti berhasil, kemungkinan besar akan diterapkan di lokasi lainnya,” tambahnya.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) juga memberikan informasi mengenai hasil sementara dari operasi modifikasi cuaca (OMC) yang menggunakan dry ice di Sumatera Selatan. Operasi yang melibatkan Kemenhut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta TNI ini berlangsung dari tanggal 16 hingga 25 Oktober 2026.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut, Thomas Nifinluri, menjelaskan bahwa dry ice digunakan untuk membantu mengurai asap yang terjebak di lapisan bawah atmosfer. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi atmosfer di lokasi dan dapat dipadukan dengan penyemaian garam (natrium klorida, NaCl) jika kondisi memungkinkan untuk pembentukan awan hujan.
“Penyebaran dry ice ini berfungsi untuk membantu mengurangi asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer. Proses ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer di lapangan dan dapat dikombinasikan dengan penyemaian garam (NaCl) jika situasi mendukung pertumbuhan awan hujan,” ungkap Thomas.
Menurut data sementara dari BMKG, operasi ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam jarak pandang di Sumatera Selatan, dari 300 meter pada pukul 09.00 WIB menjadi 2.800 meter pada sore harinya. Meskipun demikian, pemantauan terus dilakukan untuk mengadaptasi operasi terhadap perkembangan kondisi atmosfer yang ada.
➡️ Baca Juga: Kacamata Pintar Terbaru dengan Teknologi Augmented Reality yang Canggih dan Inovatif
➡️ Baca Juga: Tim SAR Mengidentifikasi Kendala dalam Pencarian 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau




