GRIB Jaya Menegaskan Kehadiran Hercules Pascademo Tidak Menunjukkan Keterlibatan Kerusuhan

Jakarta – Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya telah memberikan klarifikasi mengenai beredarnya video yang menunjukkan Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall atau yang akrab dipanggil Hercules, bersama masyarakat di lokasi setelah peristiwa penyampaian aspirasi pada 27 Agustus 2026.
Wilson Colling, S.H., M.H., yang menjabat di Divisi Hukum DPP GRIB Jaya, menegaskan bahwa kehadiran Hercules di tempat tersebut tidak serta-merta berarti ia terlibat dalam kerusuhan yang terjadi.
Ia menjelaskan bahwa konteks situasi keamanan dan kondisi lingkungan saat itu harus diperhatikan. Menurut Wilson, Hercules berada di lokasi untuk memantau keadaan sekaligus menjaga suasana tetap kondusif.
“Kehadiran tersebut merupakan bagian dari upaya persuasif untuk memantau keadaan dan menjaga kondusivitas lingkungan, bukan untuk memperkeruh keadaan, melakukan provokasi, ataupun terlibat dalam benturan fisik,” jelas Wilson dalam pernyataannya.
Wilson menambahkan bahwa secara tegas, organisasi tidak pernah mengeluarkan instruksi kepada anggotanya untuk mengikuti demonstrasi atau terlibat dalam aksi tersebut.
Ia menekankan bahwa instruksi dari Ketua Umum GRIB Jaya sudah disampaikan dengan jelas dan dipublikasikan melalui media internal organisasi untuk menghindari kesalahpahaman.
Oleh karena itu, Wilson meminta agar keberadaan individu di lokasi tertentu tidak langsung ditafsirkan sebagai tindakan yang mewakili organisasi.
Ia berpendapat bahwa kesimpulan mengenai keterlibatan organisasi harus didukung oleh bukti yang menunjukkan adanya perintah, koordinasi, atau tindakan yang berkaitan dengan tindak pidana.
“Kehadiran di suatu tempat tidak serta-merta membuktikan keterlibatan dalam tindak pidana,” tegasnya.
Klarifikasi dari GRIB Jaya juga menyentuh tentang video yang memperdengarkan seruan “pulang-pulang” di tengah situasi pascademonstrasi.
Wilson meminta masyarakat untuk melihat seruan tersebut secara utuh dan tidak terpisah dari waktu, tempat, situasi, serta rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudahnya.
Menurut Wilson, ajakan untuk pulang dapat dimaknai sebagai himbauan agar masyarakat meninggalkan lokasi dengan tertib ketika situasi sudah tidak kondusif.
Lebih jauh, apabila waktu penyampaian aspirasi telah berakhir dan kondisi mulai menunjukkan potensi gesekan, ajakan untuk membubarkan diri secara damai dapat menjadi langkah pencegahan untuk menghindari konflik yang lebih besar.
➡️ Baca Juga: Pencopotan Kompol Y Mince Mayor Sebagai Kapolres Berasal dari Situasi Panas di Dogiyai
➡️ Baca Juga: Prabowo dan PM Takaichi Berkomitmen Tingkatkan Upaya Deeskalasi Konflik Global




