Komnas HAM Temukan Keterlibatan 14 Orang dalam Kasus Andrie Yunus dan Registrasi HP Menggunakan Nama Anak 5 Tahun

Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) baru-baru ini mengungkap sejumlah hasil investigasi terbaru terkait kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis hak asasi manusia, Andrie Yunus.
Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM RI, Saurlin P Siagian, menyampaikan bahwa penemuan ini diperoleh melalui pemeriksaan terhadap delapan individu serta analisis rekaman dari kamera pengawas (CCTV) dan data komunikasi terkait.
“Dari hasil analisis dan bukti-bukti yang didapat, termasuk rekaman CCTV, analisis seluler yang dilakukan kepolisian, serta teknologi yang digunakan untuk mengakses percakapan dari BTS (Base Transceiver Station), kami menyimpulkan bahwa setidaknya terdapat empat belas individu yang saling terhubung di sekitar kantor YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) di Jakarta Pusat,” ungkap Saurlin dalam sebuah konferensi pers mengenai perkembangan kasus Andrie Yunus yang berlangsung di Jakarta, Senin.
Selain itu, ia menambahkan bahwa ada lebih dari lima individu tak dikenal lainnya yang terlihat di lokasi dengan aktivitas yang mencurigakan, serta adanya dugaan keterlibatan pelaku lain yang tidak berada di tempat kejadian.
Komnas HAM juga menemukan indikasi mengenai penggunaan identitas palsu dalam proses registrasi nomor telepon, yang diaktifkan hanya satu hingga dua hari menjelang kejadian.
“Diduga para pelaku menggunakan identitas orang lain untuk mendaftar nomor telepon seluler, termasuk nama seorang anak berusia lima tahun, seorang ibu rumah tangga, dan seorang lansia, semua ini tampak bertujuan untuk menyembunyikan identitas asli mereka,” jelas Saurlin.
Temuan lainnya menunjukkan adanya keterkaitan gerakan pelaku dengan lokasi yang diduga menjadi titik awal aktivitas mereka sebelum kejadian berlangsung.
Lebih jauh, pelaku juga diduga membawa barang-barang mencurigakan seperti sebuah plastik berisi cairan serta perangkat tertentu, dan mereka terus mengikuti korban setelah insiden tersebut terjadi.
Komnas HAM menilai bahwa rangkaian temuan ini menunjukkan adanya pola koordinasi yang kuat di antara para pelaku, sehingga memerlukan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang untuk mengungkap semua pihak yang terlibat.
Kepentingan untuk melakukan pengungkapan secara menyeluruh sangat penting agar semua individu yang berkontribusi dalam kasus ini dapat diidentifikasi dan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
➡️ Baca Juga: Indonesia Siap Memberikan Kejutan Global di Tahun Depan Menurut Prabowo
➡️ Baca Juga: Air Canada Tabrak Mobil Pemadam di LaGuardia, Pilot dan Kopilot Meninggal Dunia




