Industri Fesyen Mewah Tertekan: Penjualan Gucci dan LVMH Menurun Akibat Perang AS-Iran

Industri barang mewah global kini menghadapi tantangan signifikan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Beberapa merek fashion terkemuka di dunia melaporkan penurunan kinerja, khususnya di kawasan Timur Tengah yang sangat terpengaruh oleh situasi ini.
Kering, grup fesyen Prancis yang mengelola merek-merek ikonik seperti Gucci, Saint Laurent, dan Balenciaga, melaporkan penurunan penjualan pada kuartal pertama tahun 2026. Penjualan Kering di Timur Tengah mengalami penurunan sebesar 11 persen dari total 79 toko ritel yang ada di kawasan tersebut.
Akibat penurunan ini, performa Gucci, yang menjadi andalan grup dengan kontribusi sekitar 60 persen terhadap laba Kering, juga tertekan. Penjualan Gucci turun 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya, jauh lebih buruk daripada perkiraan analis yang memperkirakan penurunan hanya 4,7 persen.
Gucci dihadapkan pada tantangan besar di pasar China, di mana mereka berusaha membangun kembali citra merek dan meningkatkan kualitas gerainya. Kering melaporkan penurunan sekitar belasan persen pada kuartal pertama tahun ini, menambah kompleksitas situasi yang dihadapi.
Meskipun dalam tekanan, CEO Kering, Luca de Meo, menegaskan pentingnya Gucci bagi perusahaan dan mengungkapkan bahwa transformasi menyeluruh sedang dilakukan. Pernyataan tersebut disampaikan pada 15 April 2026, melalui ChannelNewsAsia.
Walaupun menghadapi tantangan, Kering masih mencatat pendapatan yang relatif stabil sebesar 3,57 miliar euro pada kuartal pertama 2026. Kinerja ini didorong oleh penjualan perhiasan dan kacamata yang tetap kuat meskipun kondisi pasar yang sulit.
LVMH juga merasakan dampak negatif yang serupa, dengan penjualan yang tidak memenuhi ekspektasi pasar. Perusahaan yang dikenal dengan merek-merek ternama seperti Louis Vuitton, Dior, dan Fendi melaporkan kinerja kuartalan yang berada di bawah harapan.
Pada kuartal pertama 2026, pertumbuhan penjualan organik LVMH tercatat hanya 1 persen, jauh di bawah proyeksi analis yang mencapai 1,5 persen. Pihak perusahaan menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah memberikan dampak negatif sekitar 1 persen terhadap pertumbuhan tersebut.
Dalam laporan manajemen LVMH yang dikutip oleh CNBC Internasional, mereka menegaskan bahwa meski dalam kondisi geopolitik dan ekonomi yang tidak stabil, perusahaan tetap mempertahankan momentum inovasi yang kuat dan menunjukkan ketahanan yang baik.
Divisi fesyen dan barang kulit, sebagai kontributor utama, mengalami penurunan sebesar 2 persen, mencatat pendapatan sebesar 9,2 miliar euro. Secara keseluruhan, pendapatan LVMH tercatat sebesar 19,1 miliar euro, sedikit di bawah ekspektasi yang ada di pasar.
➡️ Baca Juga: Metode Terbukti Ini 5 Kali Lebih Efektif untuk Menurunkan Berat Badan Jangka Panjang
➡️ Baca Juga: Pemerintah Siapkan Inpres Terkait Operasional Kopdes Merah Putih untuk Peningkatan Kinerja




