Perundingan Perdamaian Iran-AS Gagal, Selat Hormuz Jadi Salah Satu Penyebab Utama

Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran belum menghasilkan kesepakatan yang diharapkan, dengan isu Selat Hormuz menjadi salah satu penyebab utama ketidakcocokan antara kedua belah pihak.
Wakil Presiden AS, J.D. Vance, mengonfirmasi bahwa tidak ada kesepakatan tercapai setelah memimpin delegasi AS dalam pertemuan langsung dengan perwakilan Iran di Pakistan. Ia mengungkapkan kepada wartawan bahwa ia kembali ke AS tanpa membawa hasil yang diinginkan.
Pembicaraan tersebut berlanjut hingga hari kedua pada tanggal 12 April, di tengah kondisi gencatan senjata sementara yang disepakati minggu sebelumnya antara AS dan Iran, yang dinilai semakin tidak stabil. Iran diwakili oleh Ketua Parlemennya, Mohammad Bagher Qalibaf, dalam perundingan ini.
Media Iran melaporkan bahwa perbedaan pandangan, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, menjadi penghalang utama dalam proses negosiasi.
Sumber dari pihak Iran yang dikutip oleh media menyatakan bahwa status Selat Hormuz tidak akan berubah kecuali kedua belah pihak mencapai kesepakatan kerangka kerja yang saling menguntungkan untuk melanjutkan pembicaraan. Ia juga mengeluhkan tuntutan yang dianggap terlalu tinggi dari pihak AS yang menghambat kemajuan negosiasi.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengganggu pasar global dan meningkatkan harga energi, mengingat jalur strategis ini merupakan rute penting untuk pengiriman minyak mentah, gas alam cair, dan pupuk ke Asia dan wilayah lainnya. Dalam situasi normal, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini.
Presiden AS sebelumnya telah mendesak Iran untuk memastikan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu yang disepakati minggu lalu.
Namun, gencatan senjata ini dianggap rapuh, dengan Israel terus melanjutkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon yang didukung oleh Iran, yang menurut AS tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut.
Di tengah perundingan yang dimediasi oleh Pakistan, Selat Hormuz tetap menjadi pokok bahasan yang krusial. Militer AS mengumumkan bahwa dua kapal perusak Angkatan Lautnya telah melintasi jalur tersebut sebagai persiapan untuk operasi pembersihan ranjau, meskipun klaim ini dibantah oleh pihak Iran.
Ranjau yang dilaporkan dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran memunculkan kekhawatiran akan perlunya waktu untuk memastikan jalur aman bagi kapal tanker dan kapal lainnya, bahkan jika blokade yang dilakukan oleh Iran berakhir.
➡️ Baca Juga: Denza D9 Tawarkan Cas Kilat, Burgman Baru Siap Diluncurkan, Harga BeAT Karbu Bekas Terjangkau
➡️ Baca Juga: Cara Mendapatkan Sertifikasi AVPN untuk Neapolitan Pizza




