Bersihkan Selat Hormuz dari Ranjau Iran, Proses Memakan Waktu Enam Bulan

Sebuah laporan terbaru dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengindikasikan bahwa proses pembersihan Selat Hormuz dari ranjau yang ditanam oleh Iran diperkirakan akan berlangsung selama enam bulan. Hal ini dapat berimplikasi pada terus tingginya harga minyak di pasar global, sebagaimana dilaporkan oleh sumber terpercaya.
Perkiraan waktu yang disampaikan dalam briefing tertutup kepada anggota Kongres menunjukkan bahwa upaya untuk mengembalikan fungsi jalur pelayaran yang penting ini kemungkinan akan terhambat hingga konflik antara Amerika Serikat dan Iran berakhir.
Pejabat yang terlibat dalam diskusi tersebut mengungkapkan bahwa Iran mungkin telah menanam setidaknya 20 ranjau di dalam dan sekitar selat, dengan beberapa ranjau dilengkapi dengan teknologi GPS, sehingga membuatnya lebih sulit untuk dideteksi oleh operasi pembersihan.
Meskipun perang berakhir dan blokade dicabut, penilaian dari Pentagon menyatakan bahwa pembersihan jalur perairan tersebut dari ranjau akan memakan waktu yang cukup lama, berpotensi berbulan-bulan. Hal ini dapat memperpanjang ketidakpastian di pasar energi global, di mana harga minyak dan bensin mungkin akan tetap tinggi selama periode yang signifikan, bahkan mungkin sampai pemilihan paruh waktu di AS.
Dalam menghadapi situasi ini, Italia dan Jerman sedang mempersiapkan armada mereka untuk kemungkinan keterlibatan dalam misi pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Kepala Staf Angkatan Laut Italia, Laksamana Giuseppe Berutti Bergotto, mengonfirmasi bahwa Italia akan mengirimkan empat kapal, termasuk dua kapal penyapu ranjau, satu unit pengawal, dan satu unit pendukung logistik.
“Jumlah total kapal yang akan dikerahkan adalah empat,” jelas Berutti Bergotto dalam wawancara, menambahkan bahwa Italia memiliki kemungkinan untuk memperpanjang masa tugas mereka di selat tersebut, tergantung pada perkembangan situasi.
Sejumlah negara lain, seperti Prancis, Inggris, Belanda, Jerman, dan Belgia, juga berencana untuk mengerahkan kapal penyapu ranjau mereka ke Selat Hormuz, menunjukkan kolaborasi internasional dalam menangani masalah ini.
Sejak dimulainya konflik antara Iran dengan AS dan Israel, negara tersebut hampir sepenuhnya memblokir jalur air yang sangat vital ini. Tindakan ini telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan gas, serta berdampak negatif pada perekonomian global secara keseluruhan.
Selat Hormuz, yang biasanya dilalui oleh sekitar satu-fifth dari total pasokan minyak dan gas dunia dalam keadaan damai, sebagian besar masih tertutup selama periode gencatan senjata yang rapuh, dengan Amerika Serikat juga memberlakukan blokade tersendiri sebagai langkah antisipasi.
➡️ Baca Juga: Memahami Desentralisasi dalam Sistem Cryptocurrency dan Manfaatnya bagi Pengguna Global
➡️ Baca Juga: Halal bi Halal PDBN Memperkuat Persatuan Tokoh Lintas Generasi di Bogor




