Trump Hubungi Netanyahu, Meminta Penurunan Serangan di Lebanon

Presiden Donald Trump pada hari Kamis mengungkapkan bahwa ia telah meminta Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menurunkan intensitas serangan yang sedang berlangsung di Lebanon. Menurut Trump, operasi militer tersebut berpotensi merusak gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran yang saat ini sedang difasilitasi.
Sebelumnya, Iran menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dua minggu dengan AS yang dicapai pada hari Selasa lalu juga harus menghentikan pertikaian antara Israel dan Hizbullah. Namun, Israel melancarkan serangan yang paling besar dalam ofensif terbarunya pada hari Rabu, menyerang 100 lokasi hanya dalam waktu 10 menit. Serangan ini memaksa Iran untuk menanggapi dengan menutup Selat Hormuz.
Di sisi lain, Trump pada hari Rabu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata tersebut. Pernyataan ini bertentangan dengan pemahaman Iran dan Pakistan, yang berperan sebagai mediator dalam perundingan.
“Saya telah berbicara dengan Bibi (Netanyahu), dan dia setuju untuk mengurangi skala serangan. Saya rasa kita perlu bersikap lebih berhati-hati,” jelas Trump dalam kutipan yang diambil dari laman The Hill, pada hari Jumat, 10 April 2026.
Trump juga mencatat pernyataan Wakil Presiden JD Vance, yang sebelumnya menekankan bahwa Israel seharusnya lebih bijaksana dalam melancarkan serangan ke Lebanon.
“Netanyahu akan baik-baik saja. Dia akan sedikit menurunkan intensitas serangan. Dia memiliki tantangan dengan Hizbullah, tetapi saya yakin dia bisa meredakan situasi ini dan semuanya akan tetap dalam kendali,” tambah Trump dalam wawancara telepon dengan seorang jurnalis dari Israel.
Sumber dari NBC News melaporkan bahwa Trump memang telah meminta Netanyahu untuk mengurangi serangan di Lebanon.
Dalam perkembangan lain, Netanyahu menyampaikan melalui media sosial X bahwa ia telah menginstruksikan pemerintahnya untuk segera memulai negosiasi langsung dengan Lebanon. Dia menyebutkan bahwa diskusi tersebut akan berfokus pada pelucutan senjata Hizbullah serta upaya untuk membangun hubungan damai antara kedua negara.
Situasi ini muncul setelah Israel melancarkan serangan paling intensif di Lebanon sejak dimulainya konflik dengan Iran awal tahun ini. Meskipun Iran dan Pakistan menganggap Lebanon sebagai bagian dari gencatan senjata dua minggu tersebut, baik Trump maupun Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan itu.
Militer Israel memulai kampanye terbarunya terhadap Hizbullah pada tanggal 2 Maret, hanya dua hari setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Pada hari Rabu, militer Israel meluncurkan serangan ke 100 target di seluruh Lebanon, sebagaimana dilaporkan oleh juru bicara militer.
➡️ Baca Juga: Panduan Efektif Berolahraga untuk Penderita Asma dan Alergi Debu: Tips Aman dan Sehat
➡️ Baca Juga: Musisi Indie Rilis Album tentang Keresahan Sosial




