Kelola Risiko dengan Disiplin untuk Minimalkan Dampak Konflik Global pada Aset Kripto

Jakarta – Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah, terutama terkait hubungan antara AS dan Israel serta Iran, telah menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan titik vital yang dilewati sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Situasi ini memicu lonjakan harga energi, dengan minyak mencapai level US$80 per barel. Kenaikan ini menciptakan sentimen risk-off di berbagai kelas aset dan meningkatkan kekhawatiran akan inflasi serta stabilitas pasokan global. Di tengah tekanan ini, harga emas dunia juga mengalami penguatan hingga mencapai US$5.100 per troy ons, sebagai respons terhadap meningkatnya permintaan akan aset safe haven, sementara saham teknologi di Amerika Serikat mencatat rebound yang terbatas.
Sementara itu, pasar kripto, yang beroperasi tanpa henti 24/7, menjadi salah satu indikator paling cepat dalam mencerminkan perubahan sentimen investor. Berdasarkan data dari CoinMarketCap, Bitcoin sempat mengalami penurunan ke posisi US$63.100 pada akhir pekan, kemudian melonjak kembali ke US$70.000 di awal pekan, dan saat ini berada di kisaran US$68.000, dengan total kapitalisasi pasar kripto global mencapai sekitar US$2,33 triliun.
Antony Kusuma, Wakil Presiden Indodax, mengungkapkan bahwa tingkat volatilitas yang tinggi ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik dan risiko makroekonomi. “Kenaikan dan penurunan yang terjadi dalam waktu singkat menunjukkan bahwa pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh berita terkini. Dalam kondisi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto,” jelas Antony dalam keterangannya.
Dia menjelaskan bahwa pada fase awal ketidakpastian, investor cenderung bersikap risk-off untuk menjaga likuiditas portofolio mereka. Jika ketidakpastian berlanjut, banyak investor mulai mempertimbangkan untuk beralih ke aset yang lebih defensif. Antony menekankan bahwa menghindari keputusan yang didasarkan pada FOMO (fear of missing out) serta menerapkan diversifikasi portofolio dan manajemen risiko yang disiplin adalah langkah yang paling bijaksana dalam situasi saat ini.
“Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, diversifikasi portofolio menjadi salah satu strategi yang banyak diterapkan. Ini termasuk mengalihkan sebagian eksposur ke aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), serta aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang saat ini menunjukkan penguatan, sambil tetap menjaga alokasi yang terukur pada aset utama,” ujar Antony.
Sejalan dengan itu, Indodax menegaskan komitmennya untuk menjaga likuiditas, keamanan sistem, dan transparansi, sekaligus memperkuat edukasi mengenai risiko. “Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, disiplin dalam manajemen risiko dan memiliki perspektif investasi jangka panjang tetap menjadi kunci untuk bersikap rasional dan adaptif dalam menghadapi ketidakpastian global,” tutupnya.
➡️ Baca Juga: 5 Fakta Gila tentang Hiburan yang Belum Pernah Kamu Dengar
➡️ Baca Juga: Batal Main Film Bareng, Ariel NOAH dan Irish Bella Dikabarkan Bertengkar


