BPS Umumkan Kenaikan Nilai Tukar Petani 1,50 Persen Menjadi 125,45 di Februari 2026

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, mengumumkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Februari 2026 mencapai angka 125,45. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 1,50 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya, Januari 2026.
Ateng menjelaskan bahwa peningkatan NTP ini disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) yang meningkat sebesar 2,17 persen. Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang hanya naik sebesar 0,65 persen. Hal ini menunjukkan bahwa petani mendapatkan pendapatan yang lebih baik dari penjualan produk mereka.
Dalam laporan yang sama, Ateng juga menyampaikan bahwa rata-rata harga beras di tingkat grosir mengalami kenaikan sebesar 0,45 persen, sementara di tingkat eceran meningkat sebesar 0,43 persen. Sebaliknya, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan justru mengalami penurunan sebesar 0,33 persen, mencerminkan dinamika yang kompleks dalam pasar beras.
Pada kesempatan sebelumnya, Ateng memberikan proyeksi mengenai produksi beras nasional untuk periode Februari hingga April 2026, yang diperkirakan hanya akan mencapai 12,23 juta ton. Ini mencerminkan penurunan sebesar 4,02 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Dia menambahkan bahwa potensi produksi beras dalam jangka waktu tersebut diperkirakan mengalami penurunan sebanyak 0,51 juta ton, atau setara dengan 4,02 persen. Hal ini merupakan sinyal peringatan bagi sektor pertanian yang perlu dicermati oleh semua pemangku kepentingan.
Ateng juga mengonfirmasi bahwa proyeksi ini sejalan dengan estimasi potensi produksi padi, yang diperkirakan mencapai 21,24 juta ton gabah kering giling (GKG) selama periode yang sama. Angka ini juga menunjukkan penurunan sebesar 4,04 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Penurunan dalam produksi padi ini berkaitan langsung dengan luas panen yang diperkirakan akan mencapai 3,92 juta hektare (ha) pada bulan Februari hingga April 2026. Jumlah ini berkurang sebesar 0,16 juta hektare dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, mengindikasikan adanya tantangan di sektor pertanian.
Meskipun demikian, Ateng mengingatkan bahwa angka potensi luas panen tersebut masih dapat berubah. Hal ini bergantung pada kondisi terkini yang diamati di lapangan, termasuk berbagai faktor yang bisa mempengaruhi hasil panen.
Dia menambahkan bahwa beberapa faktor eksternal seperti serangan hama, banjir, kekeringan, dan waktu realisasi panen dapat berkontribusi pada fluktuasi hasil panen. Oleh karena itu, pemantauan yang cermat diperlukan untuk memastikan ketahanan pangan di masa mendatang.
➡️ Baca Juga: Musisi Indie Rilis Album tentang Keresahan Sosial
➡️ Baca Juga: Aura Farming Jadi Contoh Kecerdasan Sosial Kreatif di Indonesia
