6 Juta Pasangan Usia Subur Alami Infertilitas, Suami Juga Harus Diperiksa!

Jakarta – Masalah kesuburan masih menjadi tantangan signifikan bagi banyak pasangan yang tengah merencanakan kehamilan. Proses untuk mendapatkan keturunan tidak selalu berjalan mulus, dan tak jarang pasangan harus melalui perjalanan panjang sebelum mengetahui keadaan kesehatan reproduksi mereka.
Di Indonesia, diperkirakan sekitar 10-15 persen pasangan usia subur mengalami infertilitas. Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI yang dirilis pada 23 Mei 2022, angka tersebut setara dengan sekitar 4 hingga 6 juta pasangan yang berpotensi menghadapi masalah ini.
Infertilitas bukanlah masalah yang hanya berkaitan dengan perempuan saja. Gangguan pada sistem reproduksi dapat terjadi pada pria maupun wanita, sehingga penting untuk melakukan pencarian penyebab dan langkah penanganan yang melibatkan kedua belah pihak.
Kondisi ini menyoroti pentingnya edukasi mengenai kesehatan reproduksi, terutama bagi pasangan yang telah lama berusaha untuk mendapatkan momongan. Pemeriksaan serta konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat sangat membantu pasangan untuk memahami kondisi masing-masing dan menentukan langkah yang tepat ke depan.
Di sisi lain, menghadapi masalah infertilitas seringkali memberikan tekanan psikologis yang tidak ringan. Harapan yang belum terwujud, proses pemeriksaan yang panjang, dan stigma sosial dari lingkungan dapat menjadi beban tersendiri, terutama bagi perempuan yang sering kali lebih rentan terhadap tekanan sosial terkait isu memiliki anak.
Contoh nyata dari perjalanan panjang ini terlihat pada kisah Kingkin Kusumawardhani. Ia telah mendambakan kehadiran buah hati selama 23 tahun dalam pernikahannya. Bersama suaminya, Kingkin terus berusaha mencari pendampingan dan informasi untuk melanjutkan ikhtiar mereka.
“23 tahun bukanlah waktu yang singkat, dan perjalanan ini terasa sangat jauh. Mungkin ini adalah usaha terakhir saya,” ungkap Kingkin saat mengikuti kegiatan GlowImpact di Malang, Jawa Timur, pada 30 September 2026.
Cerita Kingkin mencerminkan bahwa masalah infertilitas sering kali merupakan perjalanan yang panjang bagi pasangan. Oleh karena itu, dukungan yang diperlukan tidak hanya berasal dari aspek medis, tetapi juga dari pasangan dan lingkungan sekitar.
Dalam proses untuk mencapai kehamilan, pasangan perlu menyadari bahwa kondisi setiap individu berbeda. Tidak semua pasangan memerlukan pemeriksaan atau penanganan yang sama. Evaluasi oleh tenaga kesehatan menjadi elemen penting untuk memahami kondisi reproduksi dan menentukan langkah-langkah yang tepat.
Adalah penting bagi pasangan untuk menjalani proses ini secara bersama-sama. Dengan melibatkan suami dan istri, informasi mengenai kesehatan reproduksi tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak saja.
➡️ Baca Juga: Update Pertandingan Persija Vs Persib di SUGBK: Izin Resmi dari Kepolisian Belum Diterima
➡️ Baca Juga: Tekanan Suporter Olahraga Desember Meningkat pada Laga Krusial Tim Nasional Terbesar




