depo 10k depo 10k
bisnis

Dolar AS Menguat di Tengah Meningkatnya Kekhawatiran Perang Global

Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan signifikan setelah sebelumnya mengalami penurunan dalam dua sesi berturut-turut. Kenaikan ini dipicu oleh pernyataan terbaru Presiden AS, Donald Trump, yang kembali memicu kekhawatiran pasar terkait kemungkinan terjadinya konflik dengan Iran.

Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa ia akan meningkatkan serangan terhadap Iran dalam jangka waktu dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan ini secara langsung mengurangi ekspektasi investor bahwa konflik tersebut akan segera mereda.

Kondisi ini mendorong para pelaku pasar untuk kembali mencari aset-aset yang dianggap aman, termasuk dolar AS. Mata uang dari Negeri Paman Sam ini bahkan menunjukkan penguatan terhadap mata uang safe haven lainnya seperti franc Swiss dan yen Jepang.

Berdasarkan informasi dari CNBC Internasional pada Jumat, 3 April 2026, dolar AS mengalami kenaikan sebesar 0,6 persen, mencapai level 0,799 terhadap franc Swiss. Sementara itu, terhadap yen Jepang, dolar menguat 0,5 persen dan berada pada posisi 159,57, mendekati angka psikologis 160 yang seringkali memicu kekhawatiran akan intervensi dari pihak otoritas Jepang.

Iran memberikan respons yang tegas terhadap pernyataan tersebut. Militer Iran memperingatkan bahwa AS dan Israel akan menghadapi serangan yang “lebih merusak, lebih meluas, dan lebih menghancurkan” jika provokasi terus berlanjut.

Kepala Strategi Pasar di Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, mengungkapkan bahwa perubahan sentimen pasar disebabkan oleh meredanya harapan untuk tercapainya perdamaian dalam waktu dekat.

“Beberapa hari terakhir terdapat optimisme bahwa konflik akan segera berakhir, tetapi pidato Presiden Trump kemarin justru menghancurkan harapan tersebut,” ungkap Chandler.

Ia menambahkan bahwa saat ini pasar sangat peka terhadap kemungkinan terjadinya konflik.

“Jika Anda percaya bahwa perang akan segera berakhir, Anda cenderung membeli aset berisiko. Namun jika tidak, Anda akan menjual aset berisiko tersebut,” jelasnya.

Tekanan juga terlihat pada mata uang utama lainnya. Euro mengalami penurunan sebesar 0,45 persen, berada di level US$1,1536. Sementara poundsterling melemah 0,63 persen menjadi US$1,3222, sehingga menghapus sebagian penguatan yang telah terjadi sebelumnya.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, naik 0,46 persen ke posisi 100,02.

Analis dari Scotiabank yang dipimpin Shaun Osborne menyatakan bahwa nada pidato Trump semakin memperburuk kekhawatiran pasar. Menurutnya, reaksi pasar berlangsung dengan cepat dan hampir sepenuhnya membalikkan penguatan mata uang negara maju (G10) yang terjadi sepanjang pekan ini.

“Nada pidato Presiden Trump tampaknya menambah kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, terutama karena ia berbicara tentang peningkatan serangan dalam dua hingga tiga minggu ke depan dan mengancam untuk menyerang fasilitas listrik Iran jika kesepakatan tidak tercapai,” tulis mereka.

    ➡️ Baca Juga: Gulkarmat Jaksel Tangani Kebakaran di Mampang dan Pastikan Tidak Ada Korban Jiwa

    ➡️ Baca Juga: Ayatollah Ali Khamenei Meninggal, Iran Umumkan Hari Berkabung Nasional Selama 40 Hari

    Related Articles

    Back to top button