Narapidana Rutan Muntok Diberi Pelatihan Menjadi Peternak Profesional Ayam Petelur

Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Muntok berkomitmen untuk terus berinovasi dalam memberikan keterampilan yang produktif bagi narapidana. Program terbaru yang diadakan ini melibatkan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dalam pelatihan mandiri mengenai teknik produksi ternak ayam petelur, dengan fokus pada ayam merawang yang unggul.
Kepala Rutan Kelas IIB Muntok, Andri Ferly, mengungkapkan bahwa inisiatif ini dirancang untuk melahirkan wirausahawan baru di bidang peternakan setelah mereka bebas dari masa hukuman. Ini adalah langkah strategis dalam membekali mereka dengan keterampilan yang akan memudahkan mereka berintegrasi kembali ke masyarakat.
Ayam merawang petelur dipilih sebagai fokus pelatihan karena merupakan unggas lokal yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi di wilayah Bangka Belitung. Dengan memanfaatkan potensi lokal, program ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga mempromosikan keberlanjutan ekonomi regional.
Para peserta pelatihan diajak untuk terlibat langsung dalam pengelolaan siklus peternakan secara profesional. Mereka akan mempelajari berbagai aspek, mulai dari penyiapan kandang yang higienis hingga teknik pemeliharaan unggas yang baik. Pelatihan ini juga mengintegrasikan standar peternakan modern dan ramah lingkungan, sehingga hasilnya dapat berkontribusi positif bagi masyarakat.
“Peserta diberikan pemahaman tentang cara menjaga kesehatan ternak dan prosedur pemeliharaan yang benar, seperti menjaga kebersihan kandang, memastikan sirkulasi udara yang baik, serta pemisahan antara anak ayam dan ayam dewasa,” jelas Ferly.
Di samping itu, WBP juga akan mendapatkan keterampilan praktis dalam pembuatan pakan ternak dan teknik pengendalian penyakit. Melalui program ini, harapannya adalah untuk memperkuat sektor ketahanan pangan, yang menjadi sangat penting bagi masyarakat.
“Program ini tidak sekadar menjadi media pembinaan keterampilan, tetapi juga mendukung inisiatif ketahanan pangan nasional dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan Rutan,” tambahnya.
Dalam sehari, Rutan mampu memproduksi sekitar 150 hingga 200 butir telur, yang tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal Rutan, tetapi juga dipasarkan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya pembinaan ekonomi.
Sementara itu, Plt Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kepulauan Bangka Belitung, Gunawan Sutrisnadi, memberikan apresiasi terhadap program pembinaan tersebut. Ia menilai bahwa usaha dalam budidaya ayam petelur ini sangat produktif dan memiliki dampak positif bagi masyarakat.
Ia berharap masyarakat dapat melihat Rutan sebagai lembaga yang tidak hanya fokus pada pembinaan, tetapi juga sebagai tempat untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi. Dengan langkah ini, diharapkan stigma negatif terhadap narapidana dapat berkurang dan pemulihan sosial dapat terwujud.
“Program budidaya ayam petelur ini merupakan langkah yang signifikan dalam memberikan bimbingan kemandirian kepada warga binaan. Selain membekali mereka dengan keterampilan yang berguna, program ini juga mendukung upaya ketahanan pangan,” pungkasnya.
➡️ Baca Juga: Ali Khamenei: Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas dalam Serangan Gabungan AS dan Israel
➡️ Baca Juga: HIIT untuk Pemula Turun Berat Badan: Panduan Lengkap & Aman




